Skip to content

Mikro Finance

November 13, 2008

qduc1Keuangan Mikro Salah Satu Cara Efektif Mengentaskan Kemiskinan dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Ibu Sri (bukan nama sebenarnya), berumur sekitar 40 tahun, tinggal di desa Sragen (Jawa Tengah), adalah seorang pengusaha warung makan sederhana. Suatu hari terpaksa meminjam uang sebanyak Rp 1 juta dari pelepas uang (lebih dikenal sebagai rentenir). Tiap bulan dia harus membayar Rp 100.000,00 tetapi pinjaman tersebut tidak pernah lunas, sebab bunganya 10% sebulan. Jadi, Rp 100.000,00 yang dia angsur selama ini hanya untuk bunganya saja, sementara untuk pokoknya tidak pernah lunas. Kemudian atas ajakan kawannya, dia bergabung dalam suatu kelompok ibu-ibu para pengusaha mikro lainnya, yang lebih dikenal dengan IstIlah KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat).

Setelah kelompoknya cukup solid, pendamping memberi kesempatan untuk mulai meminjam ke Lembaga Keuangan Mikro, masing-masing Rp 1 juta. Oleh Ibu Sri pinjaman tersebut digunakan untuk membayar lunas semua hutangnya pada pelepas uang. Kemudian setiap bulaninya Ibu Sri tetap membayar Rp 100.000,00 kepada kelompoknya, dan setelah 12 kali angsuran hutangnya dinyatakan lunas. Ibu Sri sangat bersyukur dan sejak itu penghasilannya meningkat dengan Rp 100.000,00 setiap bulannya, karena pinjamannya sudah lunas.

Itulah keuangan mikro, dengan Rp 1 juta, dapat mengubah nasib Ibu Sri dan keluarganya. Ia memang tidak mempunyai akses ke Lembaga Keuangan seperti bank, sebab tak punya agunan maupun tabungan. Satu-satunya akses adalah ke para pelepas uang, dan itu berarti ia akan menjadi miskin seumur hidupnya, karena tingginya bunga pinjaman (10-20% per bulan). Berapa banyak orang-orang seperti Ibu Sri di Indonesia? Menurut data dari PNM (Permodalan Nasional Madani), jumlah pengusaha mikro di Indonesia adalah 34,5 juta unit, dan dengan keluarganya (istri, suami, anak-anak) rata-rata 4 orang menjadi 34,5 x 4 = 138 juta jiwa, yang berarti lebih dan setengah penduduk Indonesia. Apakah mereka miskin? Umumnya begitu. Kriterianya apa? Nah, di sinilah kita belum pernah punya kesepakatan bersama, dan perdebatan serta adu argumentasi masih berlangsung terus. Setiap institusi memakai kriteria yang berbeda-beda, sehingga angka-angka kemiskinan selalu simpang siur. Secara global, ada semacam pengertian tentang kemiskinan yang dapat diterima dan dimengerti satu sama lain, yaitu apabila penghasilannya kurang dari US$ 1 per hari per orang. Jadi, satu keluarga dengan anggota suami, istri, dan 2 anak, perlu punya penghasilan 4 X US$1 X Rp 10.000,00 = Rp 40.000,00/han atau Rp 1.200.000,00 sebulan, agar tidak tergolong miskin. Wah, kalau begitu angka kemiskinan akan jadi besar sekali? Belum tentu, asalkan usaha-usaha mikro, baik di desa-desa maupun di sekitar kota besar (daerah urban) dapat tumbuh baik.

Man kita lihat pengalaman Ibu Sari di Desa Parung Bogor. Suaminya bekerja sebagai pengemudi, dan dia sendiri sebagai pedagang sayur mayur keperluan sehari-hari, bertempat di rumahnya. Setiap pagi, ketika orang lain masih nyenyak tidur, pada jam 02.00 sampai 04.00, ia belanja sayur mayur di pasar Parung ditemani suami. Dia memilih sayur dan makanan sehari-hari, dengan ragam dan jumlah yang kira-kira akan habis terjual hari itu juga.

Biasanya menghabiskan Rp 500.000,00 – Rp 600.000,00 setiap han, yang terdiri dan: ayam 7 ekor, daging 2 kg, ikan 10 ekor, tempe 70 potong, tahu 200 potong dan sayur mayur lengkap tmtuk membuat sambal-sambalan, sayur sop, sayur asem, sayur lodeh, dan lain-lain. Dia menjualnya dengan harga cukup ringan (kompetitif istilah kerennya), seperti sambalan Rp 1.000,00 sop Rp 1.000,00 sayur asem Rp 1.500,00, sayur lodeh Rp 2.000,00. Sisa yang tidak laku dimakan sendiri, atau diberikan kepada orang-orang yang kurang beruntung sebagai sedekah, sebab tidak dapat dijual kembali keesokan harinya. Tetapi kalau ayam, oleh Ibu Sari diberi bumbu, dan dijual sebagai ayam kuning keesokan harinya. Setiap hari penjualannya mencapai rata-rata Rp 700.000,00, dan masih ada yang menjadi piutang, karena langganannya ada yang penghasilannya bulanan, sehingga baru bisa membayar pada akhir bulan.

Namun, keluarga ini tidak mau menganggap mereka berpenghasilan Rp 2 juta per bulan. Mereka lebih memilih menganggap penghasilan bersihnya Rp 40.000,00 sehari, sebab suami dan kedua anaknya menganibil masing-masing Rp 10.000,00 sehari, dan belanja keperluan rumahtangga lainnya. Mereka mensyukuri Rp 40.000,00/han bersih, daripada menganggap penghasilannya sekitar Rp 2 juta sebulan. Namun, penghasilan mereka melebihi US$ 1 per orang per hari, sehingga mereka bukan tergolong miskin.

Usaha mikro memiliki laba atau profit margin yang cukup tinggi. Sebagai contoh pedagang sayur keliling di komplek perumahan. Harga tempe di pasar Rp 500,00, di komplek perumahan bisa mencapai Rp 1.500,00 — tiga kali lipat. Sayur kangkung di pasar 1 ikat = Rp 250,00, di gedongan bisa mencapai Rp 1.000,00 — empat kali lipat. Namun pelanggannya puas, karena tidak usah repot pergi ke pasar atau supermarket dan boleh beli secukupnya saja, jadi “win-win”.

Bagi usaha mikro, yang terpenting bukan bunga pinjaman yang rendah, tetapi akses ke Iembaga keuangan yang dapat memberikan pinjaman tanpa agunan dan prosedumya mudah serta dananya dapat dicairkan tepat waktu dan tepat jumlah. Pinjaman dana itu pada umumnya dibutuhkan untuk tambahan modal kerja. Mengapa diperlukan? Karena harga-harga naik dari waktu ke waktu, maka modal kerja yang ada tidak mencukupi lagi untuk membeli jumlah barang dagangan yang sama banyaknya. Apalagi kalau hasilnya menurun, masih terpakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga modal kerjanya makin susut lagi. Di sinilah keuangan mikro berperan untuk menyelamatkan mereka dan kemiskinan. Kalau modal kerjanya sudah cukup, maka kebutuhan mendesak lainnya akan menyusul, misalnya biaya sekolah anak-anak. Mereka tahu betul tanggungjawabnya sebagai orang tua, untuk memberikan pendidikan yang sebaik mungkin bagi anak-anaknya yang tercinta.

Nah, tanpa terasa kita telah menceritakan banyak aspek tentang keuangan mikro, serta peranannya dalam mengentaskan kemiskinan. Tetapi apakah para pembaca juga telah menangkap dan mengerti sama seperti yang saya mengerti? Barangkali masih ada yang belum sepenuhnya mengerti, maka baiklah tulisan ini diakhiri dengan ringkasan-ringkasan sebagai benikut:

1. Keuangan mikro adalah suatu alternatif yang amat dibutuhkan bagi usaha mikro, karena mereka tidak memiliki akses ke lembaga keuangan formal : Bank, BPR (Bank Perkreditan Rakyat).
2. Dalam Keuangan mikro, para pihak yang terkait adalah:
1. Lembaga Keuangan Mikro (LKM), yang menyediakan dana yang berkesinambungan dan makin besar dananya.
2. Lembaga Pendampingan Usaha Mikro (LPUM), yang secara berkelanjutan mendampingi kelompok usaha mikro maupun satu per satu anggota kelompok
3. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), yang membentuk kelompoknya sesuai dengan kebutuhan mereka dan terdiri dan anggota-anggota yang mereka kenal satu sama lain termasuk usaha-usahanya yang beraneka rupa. Berkelompok itu penting karena:
* Motivasi dan spirit berusaha dapat terpelihara dengan balk, dan mereka dapat belajar satu sama lain.
* Pada kelompok yang solid, dapat diterapkan sistem “tanggung renteng”. Sistem ini sebagai pengganti kolateral (dikenal sebagai collateral substitute), sehingga risiko tidak membayar kembali pinjaman, menjadi kecil.Kebiasaan menabung dapat dibina dengan baik serta dikembangkan. Dan apabila jumlah tabungan sudah memadai, anggota dapat meminjam dan kelompoknya. Kemudian kelompok yang jumlah tabungannya sudah besar (Ada kelompok yang jumlah tabungannya lebih dan Rp 30 juta, lho!) melebihi kebutuhan anggota kelompok mereka, dapat menjadi Lembaga Keuangan Mikro yang melayani kebutuhan dan kelompok yang lain.
4. Dengan berkelompok, maka biaya transaksi bagi LKM dan LPUM menjadi ningan. Pelayanan secara individual kepada usaha mikro akan memerlukan transaction cost yang tinggi sekali
5. Dengan sistem seperti di atas, maka para pihak, yaitu: LKM, LPUM, dan KSM beserta anggotanya, dapat berjalan secara berkesinambungan (sustainable) dan mandiri. Alangkah indahnya. Dengan demikian keuangan mikro dapat berperan untuk mengentaskan kemiskinan, tidak untuk semua kemiskinan, tetapi hanya sebatas pada orang-orang rniskin yang punya usaha (enomically active poor). Namun, jangan lupa, jumlah usaha mikro ini besar sekali. Kemiskinan yang lain, seperti: orang-orang tua jompo, para penganggur, anak-anak telantar, harus diatasi dengan cara-cara efektif yang lain.

Aspek lain dan keuangan mikro adalah kemampuannya untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Coba bayangkan kalau dalam satu desa ada 70 kelompok dengan jumlah anggota seluruhnya 1500 KK dan masing-masing menerima pinjaman rata-rata Rp 1 juta, maka ada dana Rp 1,5 milyar, dan uang tersebut dibelanjakan untuk barang-barang dagangan, balk hasil pertanian maupun hasil industri, maka perekonomian di desa tersebut akan bergerak memutar roda perekonomian yang akan terus mempunyai efek beranting (multiplier effect) sampai pada perekononian nasional. Itu baru satu desa. Kalau ada 1.000 desa, maka dana Rp 1,5 triliun dampaknya bagi perekonomian di desa-desa dan dampaknya secara nasional pasti akan dirasakan.

Q-duc dikota kripik ( buah pemikiran Bpk Titus Kurniadi )

4 Komentar leave one →
  1. November 13, 2008 3:36 pm

    Sebenarnya kalau tidak salah pemerintah sudah mengalokasikan dana cukup besar lho untuk kredit usaha mikro tanpa agunan. Namun sayangnya dalam kenyataan jumlah dana yang terserap masih sedikit sekali. Program ini sebenarnya sudah ada sejak lama, tahun 2001an sudah ada, namun nampaknya respons dari masyarakat tidak begitu positif, atau kurang. Menurutku hal ini lebih karena sosialisasinya yang kurang sehingga baru sebagian kecil pengusaha mikro yang tahu dan memanfaatkan fasilitas ini. Mungkin perlu peran aktif dari LSM2 kali ya agar program tersebut sukses. Padahal dinegera2 lain program serupa konon cukup berhasil lho. Atau masyarakat kita cenderung ogah dengan proses pengurusan birokrasinya – yang mungkin dibayangkan rumit – karena biasanya dinegeri kita ini ada pepatah kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah. Ini bukan pandangan skeptis lho, tapi siapa tahu…..

    Untuk Mbak DM, gimana nih?

  2. November 13, 2008 3:38 pm

    PS: untuk penjaga blog, koq jadi burem begini? enakan background putih lho….
    Ta

  3. November 14, 2008 10:44 am

    Terima kasih bos, lha ini baru rancak banak… Cuakep banget, terang dan jelas….

  4. GOMOS NAINGGOLAN permalink
    Mei 27, 2010 9:06 am

    Saya merupakan salah satu pelaku pemberi pinjaman uang (informal lender) kepada mereka yang tergolong miskin di daerah tempat saya tinggal. Saat ini saya menetapkan besar bunga percis sama dengan apa yang disampaikan uraian di atas, yaitu 20% per tahun. Tetapi kendala kegiatan pinjaman ditempat saya ini adalah saya ‘terpaksa’ memberikan pinjaman untuk sektor konsumsi bukan produktif. Dalam perspektif yang berbeda, saya sulit untuk tidak memberikan pinjaman. Tapi saya berterimakasih untuk uraian diatas mudah-mudahan makin banyak inspirasi yang boleh saya petik dan terapkan di area saya tinggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: