Skip to content

Sikap Mulia – EMPATI

November 24, 2008

EMPATI
By: Andy F Noya

 

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.  Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada, jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada, jika saya terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikkan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.  Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.  Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.  Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.  Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya
akan besar sekali artinya bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.

Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.  Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.

Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chicken Soup”, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata”terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.

Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita. Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan
kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.

9 Komentar leave one →
  1. dwi permalink
    November 25, 2008 5:11 am

    Semoga memberikan inspirasi untuk memulai hal2 yang kecil yang membahagiakan dan meringankan beban orang lain…. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari dirimu sendiri dan mulailah saat ini.

  2. intiep permalink
    November 25, 2008 10:58 am

    Bisa menghargai apapun pekerjaan orang lain, tanpa membedakan mana yang lebih bertahta. Karena sesungguhnya dihadapan Alloh jabatan yang tinggi, harta yang melimpah, pendidikan yang tinggi semua tidak ada artinya. Yang membedakan kita hanyalah keimanan dan amalan kita. Iya nggak…???

    Coba aja kalo pas lebaran, pembantu pulang, sopir libur….rumah langsung porak poranda…. ibu-ibu mengeluh, bapak-bapak marah2. Nah, dari situ kita baru menyadari betapa pentingnya mereka. Betapa berat pekerjaan mereka. Betapa semena-menanya kita pada mereka. Padahal mereka sama2 makhluk Alloh SWT.

  3. one's permalink
    November 25, 2008 11:21 am

    aku jadi ingat….
    aku pernah mengalami seperti cerita diatas…..
    kan aku jadi pelayan “soto”…..
    sementara temenku jadi pembelinya….tapi yang aku layani baik2 semua kok…

  4. intiep permalink
    November 25, 2008 11:54 am

    One’s pembelinya baik2 soale penjualnya cantik dan manis. Emangnya kamu pernah ngelap meja di warung sotomu??? Paling2 kamu ke warung nyari ibu minta disuapi. Iyo ra One?

  5. November 26, 2008 2:05 pm

    Setuju sangat.. bahkan saat diminta uang oleh pengemis pun, saat kita emang gak punya uang kita masih bisa beramal dengan senyuman atau permintaan maaf dengan halus bahwa kita sedang tidak punya uang. Tentu itu udah merupakan amal dan kebaikan buatnya. Sangat simpel tampaknya, namun bukan hal yang simpel dalam implementasinya..

  6. Q-duc permalink
    November 26, 2008 7:26 pm

    one’s : wah jadi kelingan saat2 kecil dulu, sering jalan2 pagi, dan diakhiri dengan makan
    soto di deket jembatan kereta api itu…hemh masa kecil yg indah….apalgi klo tau
    ternyata i one’2 juga da di situ…. tp kayaknya kok ga pernah ada ya one’s…

    intiep : situasi sudah aman terkendali nti….sudah dikondisikan sedemikian rupa he he he

  7. one's permalink
    November 27, 2008 9:03 am

    kok mbak inti tahu kalau aku “suka” disuapi….
    eh nuk….aku jadi pelayannya kalau hari libur…
    salah satu yang aku layani keluarga mbak Yuni….

  8. Anonim permalink
    November 27, 2008 1:09 pm

    Ya taulah One…kita kan sahabat (kamu lupa ya???). Malah aku inget kalo mo tidur kamu cari ibumu, hayo ngapain..???

    Ninoek : sip! jaga terus stabilitas nasional ya! (kayak pelajaran wawasan nusantara wae…). Sakjane opo to? Aku yo ra weruh….wakakak….

  9. intiep permalink
    November 27, 2008 1:35 pm

    Maaf yg komentar diatas aku. Tidak bermaksud menyembunyikan identitas lho….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: