Skip to content

WAJAH TELEVISI KITA

Desember 8, 2008

WAJAH TELEVISI KITA:

SEBUAH CERMIN DIRI ATAU PEMBENTUK KARAKTER MASYARAKAT?

sulis1By : Sulistyanto


Pagi tadi (Jum’at 5-12-2008) aku sambil nyetir mendengarkan celotehan Farhan di sebuah stasiun radio tentang kondisi pertelevisian kita. Ada satu pertanyaan yang dilontarkannya kepada para pendengar seperti yang aku jadikan judul posting ini. Bukan sebuah pertanyaan penting dan serius memang – karena tidak menyangkut hidup mati – tetapi anehnya pertanyaan tadi terus terngiang dalam benakku dan bahkan mengundang berbagai pertanyaan lain masuk ke dalam otakku. Apakah ada ’Grand Scenario’ dari kelompok tertentu yang ditujukan bagi masyarakat kita untuk membentuk karakternya ke arah tertentu? Apakah kurangnya keragaman acara – acara televisi kita adalah bagian dari skenario tersebut? Atau ini hanyalah sebuah kebetulan saja? Benarkah semua yang terpampang di layar televisi kita saat ini memang sebuah cerminan dari kondisi masyarakat kita? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Terkait dengan pertanyaan pertama tentang kemungkinan kebenaran bahwa apa yang terpampang di layar televisi kita saat ini adalah cerminan realita masyarakat, aku jadi merasa ngeri dan sekaligus sedih. Bagaimana tidak?! Setiap detik kita disuguhi dengan berbagai peristiwa kekerasan dan kejahatan. Ditambah lagi suguhan film – film dan sinetron yang mengiklankan kehidupan jetset yang jauh dari realita masyarakat pada umumnya – alias ngga ’down to earth’ kata orang – menawarkan kehidupan serba bebas dan gampang segalanya, serta menempatkan materi dan keduniawian di atas segalanya.

Jadi kalau benar bahwa televisi kita saat ini adalah sebagai sebuah cerminan masyarakat, maka berarti kita harus mulai bersikap ekstra hati – hati karena berbagai ancaman kekerasan, tindak asusila dan kejahatan mengintai kita setiap saat dimana – mana sebagaimana tergambar dalam layar televisi. Sedangkan hal yang menyedihkan adalah bahwa ketika kita mengingat generasi mendatang – anak cucu kita – yang harus berjuang ekstra keras untuk tetap dapat bertahan hidup dengan nilai – nilai ”kebaikan” saat ini. Hal ini mengingat bahwa pergeseran nilai – yang mungkin akan atau sedang terjadi – akan meminggirkan nilai – nilai ”kebaikan” saat ini dan akan menggantikan nilai – nilai tersebut dengan nilai – nilai ”kebaikan yang baru”. Bukankah norma baik buruk itu relatif? Apalagi kalau norma tersebut adalah norma manusia – bukan norma agama yang diturunkan oleh Tuhan – yang merupakan hasil kesepakatan sebuah komunitas. Sebagai contoh misalnya: bagi kita – masyarakat Indonesia pada umumnya – masih menganggap bahwa hidup bersama laki – perempuan tanpa nikah adalah suatu hal yang buruk. Tetapi di suatu kelompok masyarakat atau bangsa lain boleh jadi merupakan hal yang biasa dan bahkan diterima dan dijamin secara sah oleh negara. Jadi apabila nilai – nilai tersebut suatu saat disepakati oleh masyarakat kita – atas jasa televisi – maka ”nilai buruk” tadi suatu saat akan menjadi ”nilai baik”. Nah lho?!

Sedangkan menyoal pertanyaan kedua tentang kemungkinan adanya sebuah skenario besar untuk mengarahkan pembentukan karakter masyarakat kita ke suatu arah tertentu juga menimbulkan sebuah kengerian dan kecemasan lain. Bagaimana tidak? Dengan masyarakat kita yang termasuk tidak hobi membaca – menurut survey kita termasuk kategori ini – maka televisi merupakan sumber informasi dan hiburan yang dominan bagi sebagian masyarakat. Artinya apapun yang nongol di televisi akan sangat mudah menjangkau – dan akhirnya mengilhami serta mempengaruhi – sebagian besar masyarakat kita. Andaikan yang lalu – lalang di layar televisi saat ini adalah acara – acara ”bermutu” maka kita tidak perlu cemas atau sedih. Tetapi apa mau dikata, dengan acara – acara seperti yang ada saat ini adalah hal yang mustahil bahwa karakter masyarakat kita akan terbentuk ke arah yang ”baik”. Dan bukan tanpa alasan kalau kita mulai mencemaskan tentang perubahan karakter masyarakat kita – dari yang dulu terkenal santun, suka gotong royong, dan sangat toleran menjadi masyarakat yang lekat dengan kekerasan, individualis dan intoleran! <SULIS>

2 Komentar leave one →
  1. intiep permalink
    Desember 8, 2008 3:44 pm

    Acara2 televisi yg gak karuan itu dengan mudah dikonsumsi oleh anak2 kita. Sebagai ortu kita harus bisa memilihkan tontonan yang bisa menjadi tuntunan bagi mereka. Dan acara yg bs menjadi tuntunan ini jarang sekali ada dipertelevisian kita.
    Betul kata Sulis, sampai beritapun (acara yg dl kita tunggu2) skrg berubah menjadi berita2 kriminal. Apalagi sinetron2 yg menguasai pertelevisian itu isinya hanya saling intrik, permusuhan, kekrasan dsb.

    Saya sedih sekali kalo sudah dengar anak2 menyanyikan lagu2 dewasa. Tidak ada lagi lagu kayak “diobok-obok”-nya Josua atau “Nyamuk2 nakal”-nya Eno Lerian. Pernah beberapa waktu lalu sebuah televisi mengadakan sebuah acara bernama “Indonesian Kids Choice Award”, sy mendampingi anak2 sy nonton. Apa isinya? Isinya ternyata anak2 Indonesia disuruh ber-SMS-ria memilih siapa artis sinetron favorit, penyanyi favorit, lagu favorit dsb. Padahal lagu2 yg hrs dipilih itu adalah lagu2 dewasa yg tentu saja liriknya kebanyakan berisi tentang cinta. dari sini saja bisa dibayangkan bagaimana televisi itu sudah merusak moral dan kepribadian anak2 kecil kita.
    (Wah, kok ngelantur…..sory teman2…..soale aku gemes banget sama acara2 televisi kita….. Pesenku : HATI-HATI TERHADAP TELEVISI. Pilihkan acara yg sekiranya cocok buat anak2 kita. Kartunpun belum tentu semuanya bagus lho….)

  2. 10_za permalink
    Desember 8, 2008 4:01 pm

    Makasih buat mas Sulis yang telah meluangkan waktu mengirimkan artikel untuk mengisi blog kita..masih ditunggu artikel-artikel lainnya, juga dari temans yang lain…

    Dua buah pilihan yang sama-sama membuat kening kita berkerut bila kita menyaksikan wajah televisi kita. Dengan kondisi acara2 televisi kita saat ini kita tidak menginginkan dua pilihan diatas. Acara-acara kekerasan dan kejahatan yang ditayangkan secara vulgar yang dapat ditonton oleh anak-anak kita dapat memberi dampak negatif kepadanya, sedangkan suguhan film dan sinetron yang kebanyakan mengumbar kehidupan layaknya ‘negeri dongeng’ karena ceritanya yang tidak realistis. Dengan kondisi televisi kita saat ini mudah-mudahan dua opsi tersebut bukanlah jawaban untuk wajah televisi kita saat ini, tetapi jawaban untuk wajah televisi kita entah berapa tahun kedepan dengan kondisi yang lebih dewasa dan penuh pertimbangan bagi generasi muda kita bukan sekedar mengejar keuntungan pasar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: