Skip to content

Cinta Indonesia

Juli 28, 2009

CINTA INDONESIA = ANTI ASING ?

oleh : Sulistyanto

Sekarang ini diskusi tentang ke-Indonesiaan, cinta tanah air, kebanggaan kepada produk dan identitas Indonesia menjadi perbincangan dimana – mana, terutama beberapa waktu yang lalu selama masa kampanye pilpres. Semua pasangan kandidat mengemukakan jargon – jargon tentang nasionalisme, pro rakyat, bangga pada produk lokal dan menolak hal – hal yang berbau “asing” seperti sistem ekonomi neoliberal.

Bahkan saking ekstrimnya akhirnya semua orang seolah paham betul apa itu neolib sehingga sedikit saja berbau asing maka langsung diberi label neolib! Celakanya lagi ada yang menafsirkan bahwa neolib itu jelek karena berasal dari Barat, tanpa tahu sisi negatif yang sebenarnya. Alhasil ada anggapan bahwa semua yang dari “asing” terutama Barat pasti negatif dan yang “asli” Indonesia pasti positif.

Sikap nasionalisme dan kebanggaan pada tanah air ini selalu diidentikkan dengan kebanggaan pada produk, nilai – nilai, dan budaya Indonesia “asli”. Dan terkait dengan hal ini aku teringat pada sebuah artikel di Jakarta Post yang isinya antara lain tentang apa sih sebenarnya yang benar – benar asli dari Indonesia?

Sebagai contoh kalau berbicara masalah makanan berarti makanan Indonesia “asli” adalah gado – gado, tempe, tahu, sate, rendang, sambal balado. Sedangkan pakaian berarti sarung, peci atau batik. Dan tentu saja pakaian adat dari berbagai daerah. Tari – tarian tradisional, wayang kulit, wayang orang, dan wayang golek juga merupakan budaya “asli’ Indonesia.

Tetapi benarkah semua hal tersebut “asli” Indonesia? Tahukan anda bila kacang tanah, cabe dan tomat untuk bumbu sate dan balado sebenarnya bukan ”asli” Indonesia tapi berasal dari daratan Amerika? Sementara itu kelapa – yang merupakan bahan dasar santan – dan dipakai untuk bahan berbagai makanan “asli” Indonesia ternyata juga bukan asli Indonesia karena berdasarkan temuan fosil kelapa ditengarai berasal dari Selandia Baru.

Belum lagi kedelai – yang merupakan bahan dasar tempe dan tahu – makanan “asli’ Indonesia, yang ternyata sebagian besar masih diimpor – jadi jelas bukan “asli’ Indonesia. Dan ternyata sebagian besar makanan Indonesia “asli” adalah perpaduan berbagai budaya seperti Cina, India, Belanda, Spanyol dan Portugis.

Lalu bagaimana dengan kesenian, pakaian dan bahasa kita? Bukankah cerita wayang dan berbagai tari Bali bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata – yang lagi – lagi bukan ”asli” Indonesia, tetapi dari India. Tutup kepala – peci – yang menjadi bagian dari pakaian nasional kitapun ternyata asalnya dari Turki. Dan bahasa nasional kita – bahasa Indonesia – merupakan perpaduan dari berbagai bahasa seperti Sanksekerta, Arab, Cina, Jepang, Tamil, Belanda, portugis dan Inggris (dalam Wikipedia disebutkan bahwa ada 20 ribu kosa kata bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa ”asing”.

Dan bukankah banyak tata nilai dan norma masyarakat Indonesia yang bersumber dari berbagai agama seperti Islam Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu – yang lagi – lagi juga berasal dari negeri ”asing”.

Jadi masih logiskah kita apabila rasa cinta dan  kebanggaan akan Indonesia diidentikkan dengan selalu menolak semua hal yang berasal dari ”negeri asing” – luar negeri? Bahkan bukankah dari bukti – bukti sementara – aku lihat di sebuah film dokumenternya Discovery – ada indikasi bahwa makhluk di bumi, termasuk manusia tentunya,   ”aslinya” bukan berasal dari planet bumi tetapi dari planet lain. Nah…!

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: